Dermaga Mahakam Ilir bersolek, PAD Samarinda Menunggu Bukti

Redaksi

Jakartaexpres.id — Wajah kawasan Dermaga Mahakam Ilir, Samarinda,Kalimantan Timur kini berubah. Teras Samarinda Tahap II yang mencakup segmen 2, 3 dan 4 resmi dibuka di kawasan depan Pasar Pagi pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kawasan ini diproyeksikan bukan sekadar menjadi ruang publik baru, tetapi juga bagian dari penataan kawasan strategis di tepian Sungai Mahakam Samarinda.
Peresmian dilakukan Wali Kota Samarinda Andi Harun. Kehadiran Teras Samarinda Tahap II disebut menjadi salah satu upaya memperkuat fungsi kawasan publik sekaligus mengintegrasikan aktivitas masyarakat, perdagangan, transportasi air, dan ruang terbuka di pusat Kota Tepian.
Namun, di balik wajah baru kawasan tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diuji: sejauh mana kawasan ini nantinya benar-benar mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Samarinda?
Pemerintah Kota Samarinda sebelumnya menyebut kawasan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan secara terpadu, termasuk melalui ruang publik, aktivitas wisata, retribusi, serta konektivitas transportasi air. Artinya, nilai sebuah kawasan tidak hanya diukur dari perubahan wajah kota, tetapi juga dari bagaimana fasilitas tersebut dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan.
Informasi yang berkembang, pengembangan kawasan tersebut ke depan akan diintegrasikan dengan Pasar Pagi dan Masjid Raya Darussalam. Integrasi itu direncanakan melalui fasilitas jembatan penyeberangan sehingga ketiga kawasan dapat saling terhubung.
“Nantinya dermaga yang baru ini akan terintegrasi dengan bangunan Pasar Pagi dan Masjid Raya Darussalam dengan sarana penghubung melalui jembatan penyeberangan,” ujar Andi Harun.
Dari sisi infrastruktur, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hendra, menyatakan penataan segmen 2, 3 dan 4 dilakukan dengan memperhatikan aspek estetika sekaligus fungsi kawasan dalam jangka panjang. Termasuk di dalamnya konektivitas melalui jembatan penyeberangan bagi masyarakat.
“Penataan segmen 2, 3, dan 4 di kawasan Dermaga Mahakam Ilir ini dikerjakan secara cermat dan terstruktur. Kami tidak hanya fokus pada estetika, tetapi juga pada fungsionalitas jangka panjang,” kata Hendra.
Kawasan baru tersebut kemudian mendapat perhatian masyarakat dan beredar di berbagai platform media sosial. Aktivitas publik yang muncul menjadi indikator awal bahwa kawasan Dermaga Mahakam Ilir memiliki daya tarik baru. Tetapi popularitas kawasan dan kontribusi fiskal merupakan dua hal berbeda yang perlu diukur dengan indikator masing-masing.
Di titik inilah catatan pentingnya berada, berapa besar target PAD yang disiapkan dari kawasan ini, sumber penerimaannya berasal dari mana, siapa pengelolanya, berapa investasi yang telah dikeluarkan, dan kapan kontribusi fiskalnya dapat diukur? Sebab, jika Teras Samarinda Tahap II memang diarahkan sebagai bagian dari penggerak ekonomi kota, maka angka-angka tersebut pada akhirnya yang akan menjadi ukuran kinerjanya.

wajah Dermaga Mahakam Ilir boleh berubah menjadi ikon baru Samarinda. Tetapi ketika sebuah fasilitas publik disebut memiliki potensi menjadi penopang fiskal daerah, publik berhak mengetahui bagaimana skema pengelolaannya, dari mana PAD akan masuk, berapa targetnya, dan bagaimana realisasinya nanti, apakah seimbang dengan dana yang sudah di kucurkan ? Karena pembangunan bukan hanya soal wajah kota yang semakin indah, tetapi juga tentang manfaat yang dapat diukur bagi masyarakat dan keuangan daerah. (Bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP