SAMARINDA, JE. ID — Tahura Bukit Soeharto selama ini dikenal sebagai salah satu benteng kawasan konservasi penting di Kalimantan Timur. Kawasan ini memiliki fungsi strategis sebagai penyangga ekosistem, kawasan resapan air, habitat satwa liar, sekaligus ruang hijau penting di tengah pesatnya aktivitas industri ekstraktif di Kalimantan. Serta penghasil oksegen untuk kawasan dunia. Akhirnya menyerah dengan tumbang dengan keberadaa pertambangan batu bara.
Namun hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sektor pertambangan di Kalimantan Timur mulai membuka perhatian serius terhadap kondisi kawasan tersebut.
Dalam dokumen auditnya, BPK memuat berbagai temuan yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan yang bersinggungan dengan kawasan Tahura Bukit Soeharto. Temuan itu meliputi:
• bukaan lahan,
• area izin usaha pertambangan (IUP),
• hingga analisis spasial terhadap perubahan bentang alam pada wilayah Tahura.
Persoalan ini dinilai bukan lagi sekadar isu lingkungan biasa.Karena ketika kawasan konservasi mulai tertekan aktivitas pertambangan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya soal tutupan lahan.
Tetapi juga menyangkut:
• keberlangsungan ekosistem,
• sumber air,
• habitat satwa,
• pohon yang di lindungi,
• hingga masa depan ruang hijau Kalimantan Timur untuk dunia Internasional.
Yang membuat temuan ini semakin kuat adalah metode pengawasan yang digunakan BPK.
Audit tersebut tidak hanya berbasis dokumen administratif, tetapi juga menggunakan:
• citra satelit,
• drone,
• Geographic Information System (GIS),
• serta analisis spasial kawasan pertambangan.
Teknologi itu memungkinkan auditor melihat langsung perubahan kawasan dari udara, termasuk pola bukaan lahan dan aktivitas pada area tertentu yang berkaitan dengan penggunaan kawasan.
Artinya, persoalan perubahan bentang alam kini tidak lagi hanya menjadi klaim sepihak atau sekadar kekhawatiran aktivis lingkungan.Melainkan telah tercatat dalam audit resmi negara.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas perlindungan kawasan konservasi di tengah besarnya tekanan industri tambang di Kalimantan Timur.
Apalagi Tahura Bukit Soeharto memiliki posisi strategis karena berada di wilayah yang juga menjadi penyangga pembangunan dan aktivitas ekonomi regional.
Pengamat lingkungan menilai tekanan terhadap kawasan konservasi dapat berdampak jangka panjang terhadap keseimbangan ekologis.
Mulai dari :
• meningkatnya risiko sedimentasi,
• terganggunya daerah resapan air,
• fragmentasi habitat satwa,
• hingga ancaman terhadap kualitas lingkungan hidup masyarakat sekitar.
Audit BPK sebelumnya juga menyoroti:
• lemahnya pengawasan,
• perlindungan kawasan hutan yang belum optimal,
• serta penerapan sanksi administratif yang dinilai belum maksimal dalam sektor pertambangan.
Karena itu, temuan mengenai Tahura Bukit Soeharto dinilai menjadi salah satu bagian paling sensitif dalam audit sektor pertambangan Kalimantan Timur.Sebab isu ini tidak hanya berbicara tentang aktivitas tambang.
Tetapi juga menyangkut pertanyaan yang lebih besar : sejauh mana negara benar-benar mampu menjaga kawasan konservasi di tengah tekanan industri ekstraktif yang terus berkembang besar?
Publik kini menunggu langkah pemerintah dan aparat pengawasan untuk memastikan bahwa kawasan konservasi tidak perlahan kehilangan fungsinya akibat tekanan aktivitas pertambangan, Serta perkebunan, perambahan lahan.
Karena jika benteng ekologis seperti Tahura Bukit Soeharto mulai tertekan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi lingkungan hari ini. Tetapi juga masa depan ekologis Kalimantan Timur sebagai Ibukota Negara dalam jangka panjang.












